Situs Brimob Polri

02. Pasukan Khusus

        Hingga detik ini setidaknya Indonesia sudah memiliki 5 satuan khusus dengan kemampuan mencakup pembebasan sandera, serbuan gedung, pertempuran jarak dekat, demolisi bawah air, hingga lawan terorisme (counter terorist). Jika disebut, ada satuan 81 penanggulangan teror (Sat-81 Gultor) TNI AD, Detasemen Jala Mangkara (Denjaka), Korps Marinir, Detasemen Bravo 90 (Den Bravo 90) TNI AU, Detasemen C Sat I Gegana (KorpsBrimobPolri).

        Sejarah terbentuknya Pasukan Khusus di Indonesia tidak lepas dari peran Letkol Slamet Riyadi dan Kolonel A.E. Kawilarang. Gagasan itu muncul ketika perwira gagah berani itu memimpin operasi penumpasan RMS (Republik Maluku Selatan) di Ambon dan sekitarnya pada 1950. Dalam operasi Senopati itu, Kawilarang bertindak sebagai pimpinan operasi, sedang Slamet Riyadi komandan penyerbuan.

        Ketika mengejar gerombolan RMS, keduanya mengakui sering kerepotan menghadapi pemberontak. Mereka diperkuat dua kompi bekas Pasukan Khusus Belanda KST (Korps Speciale Troepen) dari KNIL (Koninkjlik Nederlands Indische Leger). KST merupakan pasukan baret hikau dan baret merah Belanda yang dilakukan pada November 1948.

       Kemampuan tempur satuan ini sungguh mengagumkan. Terutama penembak tepatnya. Jumlahnya kecil namun merepotkan pasukan TNI yang personelnya jauh lebih besar. Pengalaman menghadapi kompi istimewa RMS menginspirasikan keduanya untuk membentuk pasukan khusus.

        Sayang, Letkol Slamet Riyadi gugur di Ambon, praktis tinggal Kolonel Kawilarang yang menyimpan cita-cita pembentukan pasukan komando. Gagasan itu baru diwujudkan, ketika Kawilarang diangkat sebagai Pangdam TT III (Sekarang Kodam III Siliwangi). Namun Kawilarang kebingungan, bagaimana dan seperti apa pasukan yang akan dibentuk dengan pengalaman dan pengetahuan yang terbatas.

        Sampai akhirnya muncul laporan dari kepala seksi I TT, Mayor Inf. Djucharo. Seorang mantan Pasukan Khusus Belanda ditemukan menjadi petani dan beristrikan wanita sunda di Lembang., Bandung. Namanya Rokus Bernandus Visser, pangkat terakhir Mayor. Warga mengenalnya dengan Mochammad Idjon Djanbi.

        Singkat cerita, Djanbi direkrut dan ditunjuk membidani lahirnya Kesatuan Komando TT III (Kesko). Jabatan Komandan juga langsung diserahkan kepada Djanbi. Lokasinya di Depo Batalyon Bandung. Sebagai cikal bakal, ditunjuk satu Kompi dari TT III.

        Pasukan Khusus ini diresmikan Kawilarang pada tanggal 16 April 1952. Awalnya pasukan ini masih di bawah Siliwangi. Baru pada 1953, Komandonya dialihkan ke Mabes Angkatan Darat. Djanbi memilih warna merah sebagai baret pasukan baru ini. Sejak itu hingga hari ini, Kesatuan Komando (Kesko) menjelma menjadi satuan elit TNI AD. Namanya berubah beberapa kali dan akhirnya pada terbentuknya Detasemen 81, yang dikenal dengan Sat Gultor.

        Pada perkembangan selanjutnya, ancaman menjalar ke segala aspek kehidupan. Pembajakan dan teror terjadi dimana-mana, yang tidak lagidijinakkan oleh satuan Konvensional. Kondisi ini akhirnya memancing lahirnya Denjaka (4 November 1982) dan Den Bravo 90 (1990).

        Namun dalam rentan waktu yang lebih dulu, TNI AL sudah membentuk Kipam (Komando Intai Para Amfibi) pada 18 Maret 1961 dan Pasukan Katak (Paska) setahun kemudian. Khusus Paska, mereka tidak berkualifikasi lintas udara, namun jago soal berdemolisi bawah air. Paska banyak berperan melahirkan pasukan khusus malaysia, Paskal (Pasukan Khas Laut) pada 1983.

         Disamping ketiga angkatan tersebut mempunyai pasukan elit begitu juga dengan Polri yang dikenal dengan pasukan Gegana. Gegana dibentuk pada tanggal 14 November 1976 sebagai Satuan Elit Anti Terror Korps Brimob Polri. Gegana merupakan bentuk lain dari tim SWAT (Special Weapon and Tactics Team) yang berkualifikasi sebaga penjinak bahan peledak, SAR (Search and Rescue) dan Counter Terrorist.

        Dalam sudut pandang Militer, pasukan khusus sebenarnya hanyalah pasukan penyerang (Striking Force) dengan kemampuan Counter Terrorist. Terdapat sedikit perbedaan antara Counter Terrorist dan Anti Terrorist. Kalau yang pertama murni berupa pasukan, yang kedua ada penekanan pada analisa pra kejadian.

         Di Indonesia penggunaannya sering tumpang tindih, tak kurang pejabat negara pun menyebut-nyebut 4 satuan ini anti terror. Memang tidak ada salahnya, karena dengan penambahan kemampuan dan otoritas toh ke-4 Satuan ini juga bisa sebagai anti terror.

         Untuk kepentingan pertahanan dan keamanan dengan pelibatan tentara dan polisi. Negara kita mengenal BAIS TNI. Lebih besar lagi urusan keamanan negara, ada BIN (Badan Intelejen Negara). Khusus mengantisipasi soal-soal kejahatan (Crime) dengan setumpuk variasinya, Polri memiliki BIK (Badan Intelijen Kepolisian). Sesungguhnya, lembaga-lembaga inilah yang disebut anti terror. BIN dan BAIS bekerja secara global, internasional, nasional, propinsial dan local. Sementara BIK, berawal dari TKP (Tempat Kejadian Perkara) yang menjadi keahlian kepolisian di seluruh dunia.

        Berkaitan dengan pasukan Gegana Brimob Polri, apabila ada laporan khusus dari BIK yang menemui kejanggalan pada suatu kasus, saat itulah pasukan gegana bereaksi. Tentunya atas perintah Kapolri berjenjang sampai kepada Dankorps Brimob untuk dikirim ke lokasi TKP. Dalam pelibatan kekuatannya tidak selalu dalam ikatan Detasemen ataupun Subden, tetapi bisa juga dalam satuan unit sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Tugasnya mengumpulkan data, penangkalan dini hingga tindakan represif/penghancuran lawan.

The WordPress Classic Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: